Rabu, 26 Oktober 2011

kisah Al-Qur'an dan implikasinya dalam pendidikan


PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan bacaan sempurna dan mulia karena tidak ada satu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun yang lalu dapat menandingi Al-Qur’an. Tidak ada bacaan yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis aksaranya. Bahkan dihapal huruf demi huruf oleh anak-anak, remaja, dan dewasa. Tiada bacaan melebihi Al-Qur’an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat baik segiwaktu san saat turunnya, maupun sampai kepada sebab-sebab serta turunnya.[1]
Al-Qur’an datang dengan membuka mata manusia agar menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di bumi ini. Dan juga agar mereka tidak terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.[2]
Kandungan Al-Qur’an tentang sejarah atau kisah-kisah disebut dengan istilah kisah Al-Qur’an. Bahkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Al-Qur’an sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah). Sesuai firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.[3] Oleh karena itu kisah dalam Al-Qur’an memiliki makna tersendiri bila dibandingkan isi kandungan yang lain. Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui isi kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an sehingga kita dapat mengambil pelajaran. Al-Qur’an selain memuat ajaran akidah (keyakinan), syari’ah (hukum Islam), akhlak, janji dan ancaman, filsafat, isyarat-isyarat, juga berisi kisah-kisah, terutama kisah seputar para Nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad SAW serta umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka.[4]
Secara garis besar makalah ini akan menjelaskan tentang pengertian kisah Al-Qur’an, macam dan tujuan kisah Al-Qur’an, karakteristik kisah-kisah Al-Qur’an, gaya cerita kisah dalam Al-Qur’an, konsep kisah Al-Qur,an dalam pendidikan, relevansi kisah Al-Qur’an dalam pendidikan.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qashashul Quran
Di dalam al-Qur’an kata qishash diungkapkan sebanyak dua puluh enam kali dalam berbagai bentuk, baik fi’il madli, mudhari’, amar, maupun mashdar yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat.[5] Penggunaan kata yang berulang kali ini memberikan isyarat akan urgensinya bagi umat manusia. Bahkan salah satu surat Al-Qur’an dinamakan surat al-Qashash yang artinya kisah-kisah.
Secara bahasa, kata qashash berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar yang dipetik dari kata qashasha yaqushshu qishashan yang secara etimologi berarti mencari jejak.[6] Seperti yang didalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 64 maksudnya kedua orang itu kembali mengikuti jejak dari mana keduanya datang. Kata qashash bisa bermakna urusan, berita, kabar maupun keadaan. Ditemukan dalam surat Ali Imron ayat 62 yang artinya sesungguhnya ini adalah berita-berita yang benar.
Namun secara terminologi, menurut Manna al-Khalil al-Qaththan mendefinisikan qishashul quran sebagai pemberitaan al-Qur’an tentang hal ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah inilah yang paling banyak mendominasi ayat-ayat al-Qur’an dengan menunjukkan keadaan negeri-negeri yang ditempatinya dan peninggalan jejak mereka[7]. Hal ini diungkapkan oleh al-Qur’an dengan menggunakan cara dan gaya bahasa yang menarik dan atau dengan cara shuratan nathiqah (artinya seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu).[8]Menurut Hasbi al-Shididiy qishahul quran adalah kabar-kabar al-qur’an mengenai keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Dari pengertian yang dikemukakan diatas dipahami bahwa kisah-kisah yang ditampilkan alQur’an adalah agar dapat dijadikan pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk yang berguna bagi setiap orang beriman dan bertaqwa dalam rangka memenuhi tujuan diciptakannya yaitu sebagai abdi dan khalifah pemakmur bumi dan isinya. Serta memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan dan membimbing ke arah perbuatan yang baik dan benar.[9]
B. Macam-Macam Qashashul Qur’an
Manna’ Al-Qathan, membagi qashas Al-Qur’an dalam tiga bagian, yaitu[10]:
1. Kisah para nabi terdahulu
Bagian ini berisikan ajakan para nabi kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat dari Allah yang memperkuat dakwah mereka, sikap orang-orang yang memusuhinya, serta tahapan-tahapan dakwah perkembangannya, dan akibat yang menimpa orang beriman dan orang yang mendustakan para nabi. Contohnya:
a. Kisah Nabi Adam (QS.Al-Baqarah : 30-39. Al-Araf : 11 dan lainnya);
b. Kisah Nabi Nuh (QS.Hud : 25-49);
c. Kisah Nabi Hud (QS. Al-A’Raf: 65, 72, 50, 58);
d. Kisah Nabi Idris (QS.Maryam: 56-57, Al-Anbiya: 85-86);
e. Kisah Nabi Yunus (QS.Yunus: 98, Al-An’am: 86-87);
f. Kisah Nabi Luth (QS.Hud: 69-83);
g. Kisah Nabi Salih (QS.Al-A’Raf: 85-93);
h. Kisah Nabi Musa (QS.Al-Baqarah: 49, 61, Al-A’raf: 103-157) dan lainnya;
i. Kisah Nabi Harun (QS.An-Nisa: 163);
j. Kisah Nabi Daud (QS.Saba: 10, Al-Anbiya: 78);
k. Kisah Nabi Sulaiman (QS.An-Naml : 15, 44, Saba: 12-14);
l. Kisah Nabi Ayub (QS. Al-An ‘am: 34, Al-Anbiya: 83-84);
m. Kisah Nabi Ilyas (QS.Al-An’am: 85);
n. Kisah Nabi Ilyasa (QS.Shad: 48);
o. Kisah Nabi Ibrahim (QS.Al-Baqarah: 124, 132, Al-An’am: 74-83);
p. Kisah Nabi Ismail (QS.Al-An’am: 86-87);
q. Kisah Nabi Ishaq (QS.Al-Baqarah: 133-136);
r. Kisah Nabi Ya’qub (QS.Al-Baqarah: 132-140);
s. Kisah Nabi Yusuf (QS.Yusuf: 3-102);
t. Kisah Nabi Yahya (QS.Al-An’am: 85);
u. Kisah Nabi Zakaria (QS.Maryam: 2-15);
v. Kisah Nabi Isa (QS.Al-Maidah: 110-120);
w. Kisah Nabi Muhammad (QS.At-Takwir: 22-24, Al-Furqan: 4, Abasa: 1-10, At-Taubah: 43 -57 dan lainnya.
Kisah-kisah para nabi tersebut menjadi informasi yang sangat berguna bagi upaya meyakini para Nabi dan rosul Allah. Keimanan pada para Nabi dan Rosul merupakan suatu keharusan bagi umat Islam yang harus ditamamkan semenjak usia dini. Tanpa adanya keyakinan ini, seseorang tidak akan bisa membenarkan wahyu Allah SWT yang terdapat dalam kitab Allah yang berisi berbagai macam perintah maupun larangan-Nya. Jika seorang telah memiliki kemantapan dalam mengimani para Nabi dan Rosul, mereka akan dibawa dalm suatu keyakinan yang sama-sama diimani semua Nabi, yakni keesaan Allah SWT (tauhid).
Kisah Nabi juga bisa dijadikan teladan bagi kehidupan seseorang. Keteladanan diperlukan agar seseorang memiliki sosok yang bisa dijadikan idola. Misalnya sosok yang tampan seperti Nabi Yusuf AS, yang kaya seperti Nabi Sulaiman, yang handal dalam pertempuran seperti Nabi Musa AS. Dalam pembelajaran, peserta didik memiliki bermacam-macam karakter, bakat, dan pembawaan. Hal ini perlu dikembangkan dengan memberikan kisah-kisah pilihan Nabi dan Rosul.
2. Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya:
a. Kisah tentang Luqman (QS.Luqman: 12-13);
b. Kisah tantang Dzul Qarnain (QS. Al-Kahfi: 83-98);
c. Kisah tentang Ashabul Kahfi (QS.Al-Kahfi: 9-26);
d. Kisah tentang thalut dan jalut (QS.Al-Baqarah: 246-251);
e. Kisah tentang Yajuj Ma’fuz (QS.Al-Anbiya: 95-97);
f. Kisah tentang bangsa Romawi (QS.Ar-Rum: 2-4).
g. Kisah tentang Maryam (QS. Ali Imron: 36-45, dll)
h. Kisah tentang Fir’aun (QS. Al-Baqarah: 49-50,dll)
i. Kisah tentang Qorun (QS. Al-Qashash: 76-79,dll)
Kisah tersebut ada yang patut kita teladani dan tidak perlu diteladani. Kisah teladan dari selain para Nabi dan rasul dapat dijadikan pelajaran bahwa meskipun tidak sebagai Nabi atau Rasul manusia tetap berpeluang menjadi orang baik yang bisa menjadi pilihan dan teladan yang lain. Sedangkan kisah yang tidak patut diteladani juga bermanfaat bagi upaya penjagaan diri agar tidak terjerumus pada perbuatan yang sama. Dari dua model kisah yang baik dan buruk bisa dijadikan bahan perbandingan pada diri peserta didik untuk membentuk karakter masing-masing anak agar kelak dewasa tidak masuk kedalam kelompok orang-orang yang tidak layak untuk diteladani.
3. Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah:
a. Kisah tentang Ababil (QS.Al-Fil: 1-5);
b. Kisah tentang hijrahnya Nabi SAW (QS.Muhammad: 13);
c. Kisah tentang perang Badar dan Uhud (QS. Ali Imran);
d. Kisah tentang perang hunain dan At-Tabuk (QS. Taubah).
Kisah-kisah tersebut dapat dipergunakan untuk memantapkan keyakinan dan keimanan peserta didik agar benar-benar mencontoh kebaikan yang dilakukan para sahabat yang telah berjuang dengan semangat. Peserta didik juga dimotivasi untuk selalu berjuang dan berkorban di jalan Allah SWT. Jika pada masa Rasulullah perjuangan dengan pertempuran di medan perang, saat ini bisa diwujudkan dengan berbagai sarana, seperti memerangi kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, ketidak adilan, dan ketimpangan yang terjadi di dalam masyarakat.
C. Tujuan Kisah Al-Quran
Menurut Sayyid Quthb diantara tujuan kisah adalah[11]:
1. Menetapkan wahyu dan risalah Muhammad SAW (Yusuf:2-3)
2. Menerangkan bahwa agama seluruhnya dari Allah, dan bahwa kaum mu’minin seluruhnya adalah umat yang satu (al-Anbiya’:48-50)
3. Menerangkan bahwa agama seluruhnya adalah satu dasar (al-A’raf: 59)
4. Menjelaskan bahwa cara para nabi dalam berdakwah itu satu dan penerimaan kaum mereka hampir mirip semuanya (Huud: 25-27)
5. Sebagai pemberitaan Allah bahwa pada akhirnya Allah selalu menolong para Nabi dan menghancurkan musuh-musuhnya
6. Mengungkapkan janji dan ancaman
7. Menunjukkan betapa besar nikmat Tuhan yang diberikan kepada Nabi-Nya
8. Memperingatkan Bani adam akan tipu daya dan godaan syetan
9. Menunjukkan bahwa Allah telah membuat hal-hal yang luar biasa untuk menolong nabi-Nya
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai Al-Qur’an untuk mewujudkan tujuan yang bersifat agama. Sebab Al-Qur’an itu juga sebagai kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut. Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka keseluruhan kisah dalam Alquran tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya.[12]
Namun ketundukan secara mutlak terhadap tujuan agama bukan berarti ciri-ciri kesusasteraan pada kisah-kisah tersebut sudah menghilang sama sekali, terutama dalam penggambarannya. Bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan agama dan kesusasteraan dapat terkumpul pada pengungkapan Al-Qur’an.[13]Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan kisah Al-Qur’an adalah untuk tujuan agama, meskipun demikian tidak mengabaikan segi-segi sastranya. Dengan demikian tujuan kisah al-Qur’an bukan semata-mata menceritakan kisahnya tetapi juga untuk membuktikan kekuasaan Tuhan dan membuktikan bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan.
Kisah-kisah dalam al-Qur’an mempunyai urgensi yang cukup tinggi pada anak, terutama cerita yang bernilai tauhid dan akhlak yang akan mampu mendekatkan anak pada nilai-nilai fitrahnya, serta menumbuh kembangkannya secara wajar pembinaan mental dan spiritual anak.
Kisah al-Qur’an memiliki maksud dan tujuan yang bisa diambil manfaat dan faidahnya oleh umat Islam khususnya dan seluruh umat manusia. Al-Qur’an bisa menjadi koreksi dan klarifikasi pendapat para ahlul kitab. Karena banyak ungkapan ahli kitab yang bertolak belakang dengan kenyataan sebenarnya. Juga sebagai pembentuk pribadi yang berakhlak mulia. Seperti ditegaskan dalam surat Yusuf ayat 111 yang selaras dengan misi yang diemban Rasulullah dalam surat al-Anbiya’ ayat 107 bahwa Nabi diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Hal ini didasari karena pribadi beliau yang berakhlak mulia.
D. Karakteristik Kisah Dalam Al-Qur’an
Kisah-kisah al-Qur’an memiliki karakteristik yang berbeda dengan kisah atau cerita pada umumnya. Dalam al-Qur’an Allah menegaskan”bahwa Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan alQuran ini kepadamu”.[14]
Dari ayat tersebut jelas bahwa kisah yang dituturkan dalam al-Quran secara kualitatif memiliki keunggulan dan karakter yang paling bagus dibandingkan dengan ceirta-cerita yang muncul dikalangan manusia secara umum. Diantara karakteristik dan keistimewaan kisah dalam al-Quran adalah:
1. Kisah-kisah al-Qur’an berupa peristiwa nyata yang benar-benar terjadi
Kisah al-Qur’an bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab terdahulu dan menjelaskan sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[15] Al-Quran memberikan kisah yang tepat meskipun suatu peristiwa tersebut telah terjadi dalam kurun berabad-abad yang lalu. Misalnya dalam kisah ‘Ad dan Tsamud serta kehancuran kota Irom.[16] Dimana pada tahun 1980 ditemukan bukti sejarah secara arkeologi di kawasan Hisn al-ghurab dekat kota aden di Yaman tentang adanya kota yang dinamakan “Tsamutu, Ad, dan Irom”. Begitu pula tentang kisah tenggelam dan diselamatkannya badan Fir’aun (QS. Yunus :90-92), dimana pada bulan Juni 1975, ahli bedah Perancis, Maurice Bucaille setelah meneliti mumi Fir’aun ditemukan bahwa Fir’aun meninggal di laut dengan adanya bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya.[17]
Kenyataan dan kebenaran kisah ini sekaligus dapat dipergunakan sebagai media bagi peserta didik agar selalu berkata jujur dan benar. Kebohongan dan kepalsuan dalam hidup haruslah dihindari agar dalam kehidupan benar mendapat Ridha Allah SWT.
2. Kisah-kisah Al-Qur’an sejalan dalam kehidupan manusia
Meskipun Al-Qur’an merupakan kalam Allah, kisah-kisah yang dituturkannya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Karena itu, manusia dengan cepat mampu memahami isyarat tersebut. Kesesuaian ini memberikan indikasi bahwa kehidupan ini sudah selayaknya mengikuti pedoman dan petunjuk dari Al-Qur’an jika ingin mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
3. Kisah-kisah al-Qur’an tidak sama dengan ilmu sejarah
Al-Qur’an memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejarah yang ditulis para sejarawan. Al-Qur’an tidak hanya membincangkan sejarah secara umum, tetapi merupakan kisah pilihan yang mampu menguatkan keimanan. Dan didalam kisah-kisah terdapat pelajaran yang dapat diambil oleh orang-orang berakal.[18]
4. Kisah Al-Quran sering diulang-ulang
Al-Qur’an banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya. Menurut Manna’ Al-Qaththan, bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa rahasia diantara rahasianya adalah:[19]
a. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat lain.
  1. Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, merupakan tantangan dasyat dan bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah.
  2. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih berkesan dan melekat dalam jiwa. Karena itu pada dasarnya pengulangan merupakan salah satu metode pemantapan nilai. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan secara sempurna pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan. Dan sekalipun kisah itu sering diulang-ulang, tetapi pengulangannya tidak pernah terjadi dalam sebuah surat.
  3. Setiap kisah memiliki maksud dan tujuan berbeda. Karena itulah kisah-kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain sesuai dengan tuntutan keadaan.
E. Gaya Cerita Kisah Dalam Al-Qur’an
Ada dua sisi pokok dari setiap sejarah sebagai cerita. Pertama, sisi seni pengungkapannya yang menyangkut langgam bahasa dan teknik penyajian. Kedua, sisi isi yang menyangkut apa yang terjadi, kapan, dimana, siapa pelakunya dan mengapa terjadi.
Keragaman teknik penghidangan menurut sayyid Qutbh ada empat, yaitu:
1. Alquran mengungkapkan dengan memulai dari akhir kisah dan akibat dialami oleh tokoh-tokohnya kemudian meneruskan ke awal cerita dan memperinci peristiwa-peristiwanya. Contoh: kisah Musa dan Fir’aun dalam surat al-Qashash
2. Alquran menyampaikan rangkuman kisah, kemudian menyampaikan perinciannya dari awal sampai akhir cerita. Contoh: asbab al-Kahfi
3. Alquran menuturkan inti kisah secara langsung tanpa didahului oleh muqaddimah atau rangkumannya. Contoh: cerita Nabi Isa
4. Alquran mengubah kisah menjadi drama. Alquran memulai cerita dengan beberapa kata kemudian membiarkan tokoh-tokohnya berbicara tentang diri mereka sendiri. Contoh:kisah nabi Ibrahim dan Ismail ketika mendirikan ka’bah.
Cara khas lain yang dipakai alquran dalam mengungkapkan cerita para nabi dengan membuat ”kejutan”. Ada tiga macam cara:
1. Al-Qur’an menyembunyikan satu “rahasia” baik kepada pembaca maupun kepada tokohnya. Kemudian rahasia itu diungkapkan secara mendadak baik kepada pembaca maupun kepada tokoh cerita. Contoh: kisah Nabi Musa dengan hamba Allah dalam surat al Kahfi
2. Al-Qur’an mengungkapkan satu rahasia kepada pembaca, tetapi tokoh dalam cerita itu sendiri tidak tahu rahasia itu. Kisah Ashab al-Jannah dalam surat an-Nur:68
3. Al-Qur’an mengungkapkan sebagian rahasia al-Qur’an kepada pembaca, tetapi rahasia itu tetap disembunyikan kepada tokohnya. Sedangkan sebagian cerita lainnya disembunyikan kepada keduanya. Akan tetapi secara mendadak rahasia itu diungkapkan kepada mereka, contohnya Bilqis dengan nabi Sulaiman.
Dengan mengungkapkan sejarah, alquran tidak menggunakan sistemasi yang lazim dalam buku-buku sejarah, yaitu rangkaian peristiwa disusun secara kronologis, dijelaskan urutan dan periodenya. Sering kali pelaku dan tempatnya tidak disebutkan. Al-Qur’an juga biasanya tidak mengungkapkan sejarah seorang tokoh secara utuh dari mulai awal perannya sampai akhir kehidupannya dalam satu tempat, selain kisah nabi Yusuf. Kisah nabi lainnya terpencar-pencar. Misalnya cerita Ibrahim diungkapkan dalam 20 tempat, nabi Isa 8 tempat, Sulaiman 3 tempat.
Adapun unsur-unsur kisah dalam Al-Qur’an adalah:
1. Pelaku (al-Syaksy). Dalam Alquran para aktor dari kisah tersebut tidak hanya manusia, tetapi juga malaikat, jin dan bahkan hewan seperti semut dan burung hud-hud.
  1. Peristiwa (al-Haditsah). Unsur peristiwa merupakan unsur pokok dalam suatu cerita, sebab tidak mungkin, ada suatu kisah tanpa ada peristiwanya. Berkaitan peristiwa, sebagian ahli membagi menjadi tiga, yaitu peristiwa yang merupakan akibat dari suatu pendustaan dan campur tangan qadla-qadar Allah dalam suatu kisah, peristiwa yang dianggap luar biasa atau yang disebut mukjizat sebagai tanda bukti kebenaran, lalu datanglah ayat-ayat Allah, namun mereka tetap mendustakannya lalu turunlah adzab,dan peristiwa biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sebagai tokoh yang baik atau buruk, baik merupakan rasul maupun manusia biasa.
  2. Percakapan (Hiwar). Biasanya percakapan ini terdapat pada kisah yang banyak pelakunya, seperti kisah Nabi Yusuf, kisah Musa, dan sebagainya. Isi percakapan dalam Al-Qur’an pada umumnya adalah soal-soal agama, misalnya masalah kebangkitan manusia, keesaan Allah, pendidikan dsb. Dalam hal ini Alquran menempuh model percakapan langsung. Jadi Al-Qur’an menceritakan pelaku dalam bentuk aslinya.[20]
F. Konsep Kisah Al-Qur’an Dalam Pendidikan
Ada beberapa konsep kisah dalam al-Qur’an yaitu[21]:
1. Konsep Petunjuk ( Irsyad )
Konsep Irsyad yaitu kisah yang disampaikan dalam al-Qur’an mengandung petunjuk yang harus diikuti sebagai pesan yang mengajak pada kebenaran. Petunjuk-petunjuk ini dapat digali baik dari redaksi nash itu sendiri yang menunjuk, atau dengan penggalian linguistik, dan dengan mafhum al-Ayat yang dapat diketahui dengan memahami suatu ayat baik penelusuran dengan asbab nuzulnya atau dengan memahami konteks ayat.
Cerita dengan bentuk irsyad dapat kita lihat pada kisah tentang Nabi Ibrahim yang mendapat petunjuk dari Allah untuk berkorban:
Maka ketika anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan dia) berusaha bersama-sama dengannya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku! Sesungguhny aku melihat dalammimpi bahawa aku akan menyembelihmu;maka fikirkanlah apa pendapatmu?”. Anaknya menjawab: “Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar
Dari konsep ini anak-anak yang menjadi audien dalam sebuah cerita, mendapat hikmah dari petunjuk yang disampaikan dalam suatu serita, sehingga dengan petunjuk al-Qur’an tersebut anak-anak dapat arahan akan suatu yang banar sari sebuah perbuatan baik dan meninggalkan kebiasaan yang buruk. Sekaligus dengan hikmah petunjuk tersebut bagaimana anak dapat terangsang kreativitasnya dalam membuahkan hal-hal yang baru, dengan kreativitas yang dikembangkan dari ide-ide yang didapati pada petunjuk al-Qur’an.
2. Konsep dialogis dan menjawab persoalan
Kata hiwar dapat dipahami sebagai pengulangan kembali pembicaraan tentang dua sisi yang dibahas demi lebih detailnya, atau untuk merendahkan hati, namun demikian cara ini juga ditambah dengan semangat memberi petunjuk.
Bentuk cerita dengan obrolan, akan tetapi dengan arti berikut sampel yangmudah dipahami, dengan tidak meninggalkan ciri-ciri nilai keutamaan, yakni sebagai misi utama al-Qur’an, perintah perintah moralnya dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam kehidupan kolektif manusia.
Sebagai contoh cara pengajaran bentuk dialogis ini adalah dapat dilihat pada surat Yusuf:
Dan ya’kub berpaling dari mereka (anak-anaknya ) seraya berkata: Aduhai duka citaku terhadap yusuf” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya(terhadap anak-anaknya), mereka berkata demi Allah senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa .Ya’kub menjawab : sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku dan aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui. Hai anak-anakku, pergilah kamu dan jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (Q.S .Yusuf :84-87) .
Pada cerita dalam ayat diatas, dialog yang terjadi antara Nabi Ya’kub dan putera-puteranya, sungguh merupakan suatu gambaran nilai etika yang sangat tinggi. Disini tampak luka hati yang justru diakibatkan oleh perbuatan putra-putranya sendiri, dalam cerita ini sang tokoh yang diperankan oleh nabi Ya’kub tetap mampu bersikap lembut dengan selalu mengharap akan rahmat yang ia pesankan dengan sikap dasar itu pada anak-anaknnya. Konsep ini sangat baik dalam mengajarkan suritauladan yang baik pada diri anak. Dari dialog ini anak-anak juga dalam bercerita diajak berdialog seperti sesungguhnya, cara ini agar hubungan anak dan pendidik lebih dekat dan lebih mudah memasukkan nilai cerita yang dibawakan.
3. Konsep mengingatkan (Dzikra)
Dzikra adalah bentuk isim dari tadzkirah mengandung pengertian upaya untuk melestarikan hafalan atau pelestarian suatu hafalan dengan lisan. Dapat di masukkan sebagai makna itu adalah shalat yang diselenggarakan untuk Allah SWT, do’a yang dipanjatkan padanya, serta puji-pujian yang di berikan padanya. Dalam hal ini, banyak ayat yang menerangkan zikir-zikir yang harus dilakukan, diantaranya:
Allah SWT. Memberi anugerah pada Ayyub untuk dapat mengumpulkan kembali keluarganya, dan ia menambahkan kepada mereka sekeluarga sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari-Nya dan untuk menjadi ingatan bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.
4. Konsep hikmah dan pelajaran
Bentuk ini adalah untuk memberikan pelajaran sebuah kebenaran, agar selalu mengerti akan pentingnya sebuah pengetahuan dan hikmah. Contoh tentang hal ini dalam surat Luqman, sebagaimana diketahui bahwa menurut jumhur ulama’, Luqman bukanlah seorang nabi, kecuali pendapat Ikrimah dan Al-Syaibani, akan tetapi ia adalah seorang yang sholeh yang diberi oleh Allah kelebihan, hikmah dan kemampuan memutuskan antara yang haq dan yang batal dan dimuliakan oleh Allah dengan ma’rifat dan ilmu dan ta’bir yang tepat dan benar. Dalam kepribadiaanya ia adalah sosok hamba yang sangat sederhana, dan sebagai qodli atas bani isroil. Adapun tentang Luqman ini Allah berfirman :
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah”. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia besyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnaya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzoliman yang besar”. Dan kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tua, ibunya telahmengandungnya dalamkeadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kedua orangtuamu, hanya kepadaKulah kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergauilah mereka di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Luqman berkata): Hai anakku, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Luqman 12-16 ).
Dalam ayat diatas, pengertian yang dapat dipetik bahwa pendidikan orang tua, kepayahan dan kesulitannya baik malam maupun siang hari, agar anak mau mengingat kebaikan orang tua yang telah diterimanya.
4. Konsep ancaman.
Bentuk ini adalah untuk membuat sebuah peringatan (warning) agar meninggalkan sesuatu yang buruk atau jangan melakukan sesuatu yang buruk, karena segala sesutu yang buruk itu mengandung konsekuensi sebagai balasan atas perbuatan buruk tersebut, dapat berupa hukuman atau musibah karma.
Dapat dicontohkan sebagaimana dalam firman Allah Al-Lahab ayat: 1-5. Surat ini menceritakan akan konsekuensi sebuah perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh Abu Lahab, sehingga cerita ini akan menjadi peringatan sekaligus ancaman bagi mereka yang mengulang perbuatan jahat seperti apa yang telah dilakukan oleh Abu lahab dan Isterinya. Jelaslah bahwa peringatan dan ancaman dalam kisah-kisah dalam al-Qur’an hakikatnya tidak lain merupakan bentuk psikoterapi dari kesombongan dan keangkuhan dari orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, yang harus dihadapi dengan peringatan dan ancaman yang dapat merendahkan diri mereka.
Dari sisi lain, manusia sendiri secara psikologis merupakan makluk dengan karakteristik dan sifat yang tangkas sejak lahir yakni seperti naluri cinta hidup, naluri takut, tunduk, menentang,dan sebagainya. Dari sifat khusus manusia itu selanjutnya akan memunculkan dorongan-dorongan dalam diri manusia. Dengan dorongan-dorongan inilah manusia akan memenuhi kebutuhannya, baik rasa aman, minat dan sebagainya.
Namun sebaliknya bila dorongan itu berlebihan, maka akibatnya justru manusia tidak lagi dapat mengendalikan dorongan itu, akan tetapi dorongan itulah yang akan mengendalikannya dan hal ini disebut dengan penyimpangan dorongan, misalnya seseorang menjadi berlebihan dalam memusuhi dan menganiaya terhadap sesama.
Penggunaan ancaman sebagai akibat dari sebuah perbuatan yaitu berupa siksa Allah di akhirat kelak, seseorang berusaha menghindarinya, bahkan apabila ketakutan itu begitu dahsyat, hal ini akan membuat seseorang tertimpa kebingungan untuk waktu yang lama, dimana ia tidak akan mampu bergerak dan berpikir. Dalam keadaan seperti inilah, seluruh perhatiaannya akan tertuju pada bahaya yang mengancam dan usahanya untuk melepaskan diri dari bahaya itu serta memalingkannya dari hal-hal lain.
G. Relevansinya Dalam Pendidikan
Penuturan kisah-kisah al-Qur’an sarat dengan muatan edukatif bagi manusia khususnya pembaca dan pendengarnya. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari metode pendidikan yang efektif bagi pembentukan jiwa yang mentaukhidkan Allah SWT[22]. Karena itu ditegaskan Allah SWT “ faqshush alqashash la’allahum yatafakkarun”, maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berpikir.[23]
Jika kita telaah lebih jauh, kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat muatan kisah-kisah turun saat nabi Muhammad SAW di kota Mekkah (periode Makkiyah). Periode tersebut prioritas dakwah Rasulullah lebih banyak diarahkan pada penanaman akidah dan tauhid. Hal ini memberikan isyarat bahwa kisah-kisah sangat berpengaruh bagi upaya untuk mendidik seseorang yang awalnya belum memiliki keyakinan tauhid menjadi hamba Allah yang bertauhid.
Selain itu pada periode Mekkah, nabi Muhammad juga banyak mengadakan upaya penanaman akhlak karimah dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat jahilliyah yang tidak bermoral. Pemberian contoh kisah-kisah umat terdahulu beserta akibat yang dialami bagi orang yang menentang perintah Allah serta berperilaku tidak baik secara tidak langsung mengetuk hati orang yang merenungkan hikmah dibalik kisah tersebut. Kisah menjadi sarana yang lembut untuk merubah kesalahan dan kekufuran suatu komunitas masyarakat, dengan tidak secara langsung menggurui atau menyalahkan mereka.
Dalam dunia pendidikan, pola pendidikan yang hanya menggunakan metode ceramah secara monolog tentu sangat membosankan bagi peserta didik, terlebih di kalangan peserta didik pemula pada tingkat SD/MI. Seorang pendidik harus mampu memberikan variasi metode pembelajaran dengan menyisipi berbagai kisah dan cerita yang relevan dengan kompetensi dan materi pembelajaran.
Kita jumpai bagitu banyaknya penayangan film baik dalam layar lebar maupun layarkaca, penayangan sinetron, tater, kesenian tradisional wayang dan ketoprak merupakan bagian tak terpisahkan dari bentuk kisah-kisah atau cerita yang dikemas dalam berbagai media.
Semua media kisah tersebut tentu memberikan pengaruh bagi sikap (afektif ) maupun kejiwaa para pemirsa maupun pendengarnya. Kenyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kisah-kisah bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangatlah tepat jika dalam al-Qur’an terdapat kisah-kisah ataupun cerita-cerita yang bisa dijadikan rujukan bagi kehidupan manusia.
Dunia pendidikan pada hakikatnya menjadi upaya menjelaskan hasil eksperimentasi sebuah kisah kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dalam pendidikan kisah-kisah yang positif dijadikan rujukan. Pengambilan kisah teladan ini sekaligus memiliki kesamaan dengan misi al-Qur’an yaitu membawa manusia kepada sosok insan paripurna (al-insan al-kamil) yang memiliki budi pekerti yang luhur (al-akhlaq al-karimah).
Begitu pula selaras dengan misi Rasulullah SAW yang diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta. Pendidikan yang baik adalah yang juga akan membawa manusia serta kehidupan di dunia ini bisa sejahtera secara lahir dan batin, suatu kehidupan yang dipenuhi dengan sikap saling merahmati antar sesama manusia bahkan juga dengan makhluk lainnya.
Fenomena global warming (pemanasan global) yang saat ini menimpa masyarakat dunia merupakan salah satu kasus masih jauhnya ralitas kehidupan manusia di era globalisasi dan industrialisasi dari kesejahtaraan dan rahmat yang sejati. Terlebih dengan masih banyaknya peperangan dan pertumpahan darah di muka bumi. Karena itu kemajuan iptek yang tidak dilandasi akhlak yang mulia bukanlah suatu hasil pendidikan, namun justru akan menghantarkan manusia pada jurang kehancuran sebagaimana telah dikisahkan dalam al-Qur’an atas bangsa-bangsa terdahulu, seperti bangsa Tsamud, bangsa Ad, dan lain sebagainya.
Kisah juga menjadi media yang efektif untuk memberikan peringatan kepada peserta didik agar tidak terjerumus dalam berbagai kemaksiatan maupun kejahatan. Dengan suatu cerita atau kisah peserta didik akan mendapat sentuhan nilai-nilai yang akan berpengaruh terhadap karakternya.
Seorang guru dapat menempatkan kisah atau cerita dalam proses pembelajaran. Materi pelajaran sangat menentukan pemilihan metode ini. Selain mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang memang berisi sejarah masa lalu, pada materi Pendidikan Agama Islam yang lain seperti al-Qur’an Hadist, Aqidah Akhlak ataupun Fikih bisa juga memanfaatkan metode pembelajaran yang menekankan pada kisah-kisah al-Qur’an. Pemberian kisah-kisah tersebut bisa disisipkan di tengah-tengah materi pelajaran agar anak didik tidak jenuh dan bosan terhadap materi.
Disamping itu pula pada pembalajaran al-Qur’an Hadist diperlukan uraian dan penjelasan yang disertai cerita-cerita dalam al-Qur’an untuk menguatkan penjelasan seorang guru baik dari sebab-sebab turunnya ayat alQur’an yang dipelajari atau sebab-sebab munculnya suatu hadist. Sementara dalam pembelajaran Akidah-Akhlak penggunaan kisah-kisah al-Qur’an sangat diperlukan agar internalisasi nilai-nilai keimanan benar-benar tertanam pada pribadi peserta didik. Begitu pula dengan pembentukan pribadi yang berakhlak mulia, sangat memerlukan contoh-contoh teladan yang bisa dijumpai pada kisah al-Qur’an. Sementara dalam pembelajaran Fikih, untuk memberikan semangat pada peserta didik untuk menjalankan hukum Islam baik berupa ibadah shalat, puasa, zakat, haji maupun ibadah-ibadah yang lain sangt tepat apabila diberikan kisah-kisah yang mendukung upaya menunaikan ibadah tersebut, sehingga peserta didik lebih mudah meneladani dan mengikutinya.
KESIMPULAN
Secara terminologi qishashul quran didefinisikan sebagai pemberitaan al-Qur’an tentang hal ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris.
Tiga macam kisah: kisah para nabi terdahulu, kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya, dan kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah.
Tujuan kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an adalah agar dapat dijadikan pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk yang berguna bagi setiap orang beriman dan bertaqwa dalam rangka memenuhi tujuan diciptakannya yaitu sebagai abdi dan khalifah pemakmur bumi dan isinya. Serta memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan dan membimbing ke arah perbuatan yang baik dan benar
Karakteristik kisah Al-Qur’an yaitu Kisah-kisah al-Qur’an berupa peristiwa nyata yang benar-benar terjadi, Kisah-kisah Al-Qur’an sejalan dalam kehidupan manusia, Kisah-kisah al-Qur’an tidak sama dengan ilmu sejarah, Kisah Al-Quran sering diulang-ulang.
Dua sisi pokok dari setiap sejarah sebagai cerita. Pertama, sisi seni pengungkapannya yang menyangkut langgam bahasa dan teknik penyajian. Kedua, sisi isi yang menyangkut apa yang terjadi, kapan, dimana, siapa pelakunya dan mengapa terjadi.
Konsep kisah al-Qur’an dalam meningkatkan spiritual anak adalah : Konsep Irsyad (petunjuk), Konsep dialogis, konsep hikmah dan I’tibar (hikmah dan pelajaran), konsep dzikra (mengingatkan), konsep takhwif dan tahdzir (ancaman)
Penuturan kisah-kisah al-Qur’an sarat dengan muatan edukatif bagi manusia khususnya pembaca dan pendengarnya. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari metode pendidikan yang efektif bagi pembentukan jiwa yang mentaukhidkan Allah SWT
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta: Bulan Bintang. 1972.
Charisma, Moh. Chadziq. Tiga Aspek Kemukjizatan Alquran. Surabaya: Bina Ilmu. 1991.
Hatta, Jauhar. 2009. “Urgensi Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an al-Karim bagi proses II
Pembelajaran PAI pada MI/SD,” dalam Jurnal Al-Bidayah PGMI, Volume
Junaidi, AF.2004. “Konsep Al-Qur’an dalam Pendidikan Spiritual Anak Melalui Kisah-
kisah”,dalam Jurnal Fenomena UII vol 2
Munawir, Fajrul dkk. Al-Quran. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005.
Mushaf Alquran.
Nasution, Harun. Islam Rasional. Bandung: Mizan. 1998.
Quthb, Sayyid. Indahnya Al-Qur’an Berkisah. Jakarta: Gema Insani. 2004
Qaththan, Manna’K. Mabahits fi Ulumul Quran, tt Masyurah al-Asyr, 1073
Rowi, Roem.2009. ” Kisah-kisah Mendominasi Al-Quran,” Republika Online”, 12 Mei 2009
Shihab, M. Quraish. Mukjizat Al-Quran. Bandung: Mizan. 1998.
________________. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan. 1998.
_______________. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan. 1998.
Usman. Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Teras. 2009.
Istana Ilmu, “Qashash(Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an)”, (http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html) diakses pada tgl 12-04-2011


[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1998), Hlm.3
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1998), Hlm.15
[3] QS. Yusuf: 111
[4] Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1998, Hlm. 20
[5] Hatta, Jauhar. 2009. “Urgensi Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an al-Karim bagi proses Pembelajaran PAI pada MI/SD,” dalam Jurnal Al-Bidayah PGMI, Volume II, hlm. 14
[6] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia
[7] Manna’ Khalil al-Qaththan dalam Usman, Ilmu Tafsir, ( Yogyakarta: Teras,2009), Hlm. 139
[8] Ibid, Hlm. 140
[9]Fajrul Munawir dkk. Al-Quran. (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005). Hlm. 107
[10] Manna’ Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulumul Quran, (tt Masyurah al-Asyr, 1073). Hlm.306
[11] Sayid Qutb. Indahnya Al-Qur’an Berkisah. (Jakarta:Gema Insani, 2004), Hlm. 159-170
[12] A. Hanafi, Segi-segi Kesusasteraan pada Kisah-Kisah Quran. (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983). Hlm. 68
[13] Ibid, hlm 68
[14] QS.Yusuf: 3 ayatnya “nahnu naqushshu ‘alaika ahsana al-qashashi bima auhaina ilaika hadza al-Quran”
[15] QS. Yusuf: 111 ayatnya ma kana haditsan yuftara walakin tashdiqalladzi baina yadaihi wa tafshila kulla syai’ wa hudan wa rahmatan liqaumin yu’minun
[16] QS Al Haqqah:4-7, QS. Al-Fajr:6-9
[17] M. Quraish Shihab, Mukzizat al-qur’an :ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib,(Bandung:Mizan,1998) Hlm. 196-201
[18] QS Yusuf ayatnya: لقد كان في قصصهم عبرة لاولي الالباب
[19] Istana Ilmu, “Qashash(Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an)”, (http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html) diakses pada tgl 12-04-2011
[20] Fajrul Munawir dkk. Al-Quran. (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005). Hlm. 108-109
[21] Junaidi, AF.2004. “Konsep Al-Qur’an dalam Pendidikan Spiritual Anak Melalui Kisah- kisah”, dalam Jurnal Fenomena UII vol 2, Hlm.142
[22] Hatta, Jauhar. 2009. “Urgensi Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an al-Karim bagi proses Pembelajaran PAI pada MI/SD,” dalam Jurnal Al-Bidayah PGMI, Volume II:22
[23] QS. Al-A’raf :176

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar